Sebelum pakai Gumugu, Ponpes An-Nuur mencatat semua kegiatan harian dengan cara tradisional: 6 buku besar untuk setoran hafalan, 1 buku untuk iuran santri, 1 buku untuk perizinan, dan masing-masing ustadz pengasuh punya catatan pribadi.

Akibatnya, beberapa masalah muncul berulang setiap bulan:
- Sulit lihat progress total. Untuk tahu sampai juz berapa rata-rata santri, butuh rekap manual 2-3 hari.
- Wali santri sering bertanya. Tiap bulan kantor pesantren menerima ratusan pertanyaan tentang kondisi anak via telepon — yang sebenarnya bisa dilihat sendiri.
- Iuran sering tertunggak. Tagihan masih dicetak dan dikirim manual, banyak yang lupa atau bahkan hilang dalam perjalanan.
- Risiko kehilangan data. Pernah ada kejadian buku hafalan basah kena hujan dan tulisan luntur. Beberapa setoran ulang santri jadi tidak tercatat.
"Kami sebenarnya sadar masalahnya," kata K.H. Abdul Hadi, pimpinan pesantren. "Tapi memilih sistem yang cocok untuk pesantren susah — aplikasi sekolah umum tidak mengerti hafalan, kitab, atau iuran multi-pos kami."












